HARI SANTRI, PENGARUH DAN PROSPEKNYA
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ
أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ
عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا
لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ
كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya :
Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan
kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya
nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh
(pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah
diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada ma
Allah
SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal. Sifat manusia ada empat
yaitu parsial, material, dimensial dan temporal. Parsial artinya terbagi jadi
dua yaitu sisi kanan dan kiri, material artinya bersifat materi atau jasad yang
tampak, dimensial artinya bisa dihitung sedangkan temporal artinya berwaktu.
Manusia adalah yang tercipta atau makhluq sedangkan pencipta adalah Tuhan Yang
Maha Esa. Setiap manusia memiliki tugas dan fungsi utama sebagai kholifah yang
mengatur dan menggunakan alam semesta untuk kepentingan bersama. Ketika manusia
diselimuti akal maka alam keberlangsungan alam semesta akan tetap kontinyu dan
berkesinambungan. Jika hawa nafsu yang meliputinya maka alam semesta akan
hancur.
Karena
sifatnya yang mengatur maka manusia harus mampu menggunakan akalnya. Hal itu
sesuai dengan asal nama manusia yang diambil dari bahasa Arab “Insan”, “anasa”,
‘anis”, dan anisah. Anasa adalah verb atau kata kerja sedangkan anis atau
anisah atau pronoun adalah kata benda subyek. Anis pelaku laki – laki sedangkan
anisah pelaku perempuan artinya orang yang mengharmoniskan, Tugas ini tidak akan
dicapai tanpa adanya akal sebagai penunjang.
Berdasar
ayat diatas bahwa Allah menjadikan manusia sebagai umat yang wasathiyyah dalam
arti umat yang tengah-tengah atau tawassuth atau moderat. Umat yang menjadi
penengah antara dua sisi. Ini sangat berkaitan erat dengan asal nama manusia
diatas yaitu mengharmoniskan. Allah tidak menyebut ‘ummatan Islamiyyatan” atau “ummatan
wahidatan” namun “umattan wasathon”. Tugas ini yang akan menjadi persaksian
kita baik di dunia maupun diakhirat oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
PENGARUH
HARI SANTRI
Para ulama’ – ulama’terdahulu berusaha menjadi umat yang wasathiyyah, umat yang mengharmoniskan. Taruhlah Imam Hasan Al Basri yang berusaha mengembalikan umat waktu itu untuk kembali kedunia ilmu karena waktu itu umat terperangkap dalam dilematika politik. Mereka saling bertikai, bertengkar hanya gara-gara kepentingan politik bahkan wafatnya cucu Baginda tersayang yaitu Imam Husein RA disinyalir gara-gara kepentingan politik. Juga Imam Abu Hasan Ali Al Asy’ari pendiri madzab Asy’ariyyah yang mengharmoniskan antara dalil aqli dan dalil naqli. Dalil naqli saja tidak cukup untuk memahami adanya Allah, maka diperlukan dalil aqli. Kita tidak akan menjumpai ayat yang menjelaskan Allah itu ada namun kita banyak menjumpai sifat-sifat Allah dalam Al Qur’an seperti Ar Rahman, Ar Rahim, Al ‘Adl, Al Syakur dan lain-lain, Imam Abu Hasan beranggapan tidak mungkin ada sifat tanpa adanya Dzat. Ada sifat pasti ada Dzat karena itu Beliau menyimpulkan bahwa sifat utama/nafsiyah yaitu sifat WUJUD yang artinya Allah itu Ada. Dengan adanya Allah maka alam semesta ada serta adanya alam semesta juga merupakan bukti adanya Sang Pencipta, Causa Prima yaitu Allah Robbil 'Izzati.
Tidak ketinggalan ulama’ terkenal dari Indonesia, pendiri ormas keagamaan terbesar yaitu NU. Beliau adalah Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim berhasil mengharmoniskan antara negara dan agama. Keduanya harus harmonis agar keberlangsungan umat tetap kontinyu. Agama tidak rusak karena sulitnya mengamalkan agama pun juga negara tidak rusak karena tiadanya agama.
Pada tahun 1913, Mbah Hasyim bisa memprediksi bahwa nanti Turki Utsmani akan hancur dan bekas kekuasaannya terpisah menjadi beberapa negara. Beliau juga bisa memprediksi bahwa jika Islam dan negara dibenturkan maka akan terjadi chaos dan berakibat rusaknya negara itu. Dengan semboyan "Hubbul Wathon Minal Iman" Cinta tanah air sebagian daripada iman, Beliau menanamkan kepada generasi mendatang untuk mencintai negara tanpa meninggalkan agama. Nasionalisme harus tetap dipupuk agar keberlangsungan tatanan negara tercapai.
Dari slogan itu, pada tahun 1945 ketika Belanda menjajah kembali Indonesia dengan bantuan sekutu, para santri, rakyat, dan juga tentara bahu membahu, berjibaku untuk mengusir penjajah Belanda di negeri tercinta tepatnya di Surabaya. Banyak rakyat Indonesia termasuk para santri yang gugur, namun dorongan semangat jihad dari Mbah Hasyim yang terkenal dengan "Resolusi jihad" penjajah bisa diusir dari Surabaya, Tidak hanya itu, Jendral mereka yaitu Jendral Malaby juga ikut tewas dalam pertempuran di Surabaya.
Ketika orde baru berkuasa, sejarah perang heroik para santri di Surabaya diputar balikkan. Sejarah menjadi kamuflase. Perjuangan santri tidak tercatat dalam buku-buku sejarah bahkan para santri mengenal resolusi jihad akhir-akhir ini saja.
Namun ditahun 2015, Presiden Jokowi berusaha menguak kembali sejarah yang terbenam, membuka kembali lembaran - lembaran sejarah betapa besar peranan santri untuk negeri. Berdasarkan keputusan Presiden no.22 tahun 2015 di masjid Istiqlal dinyatakan bahwa tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari Santri Nasional. Subhanalloh, nomor surat 22, resolusi jihad juga tanggal 22 Oktober 1945, dan hari santri juga jatuh pada tanggal 22 Oktober. Ini bukan suatu kebetulan namun fadhol dari Allah agar santri selalu istiqomah dalam berjuang untuk agama dan negara.
PROSPEK HARI SANTRI
Tercatat data di Kemenag tahun 2019 jumlah pondok pesantren di Indonesia 27.277 pondok sedangkan jumlah santri 4.176.285 santri. Penulis yakin masih banyak pondok dengan santri-santri yang belum masuk data. Dengan jumlah demikian, sangat diharapkan bagi para santri untuk selalu aktif dan berkecimpung dalam dunia apapun. Baik itu dunia usaha dan jasa. Diharapkan pula para santri yang pernah diajari kewirausahaan oleh Kyai mampu mengamalkan ilmunya ketika nanti terjun didunia masyarakat. Mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru sehingga dapat menjadi solusi atas ketimpangan sosial yang diakibatkan dari faktor ekonomi. Para santri yang setiap saat dididik kejujuran dan kemandirian sangat diperlukan bagi kalangan industri karena sulitnya mencari orang yang jujur dan bisa dipercaya dalam menangani proyek-proyek besar di perusahaan. Jiwa perjuangan santri semasa di Pondok juga bisa menjadi bekal nanti agar para santri tidak mudah patah semangat, selalu bangkit meski terpuruk dalam kerugian. Semoga para santri bisa mengamalkan ilmunya, selalu bisa mewarnai ditengah - tengah masyarakat sebagai pembawa agen perubahan. Aamiin








Tidak ada komentar:
Posting Komentar