PENDIDIKAN
ALA IMAM SYAFI'I
Santri Pondok Pesantren tentunya tidak asing mendengar
nadhom dibawah ini. Nadhoman ini sering dibaca bahkan dihafalkan oleh para
santri yang duduk dibangku Madrasah Diniyyah awal. Nadhom ini dikarang oleh
salah satu ulama' besar, pendiri Madzab Syafi'iiyah yang dianut oleh sebagian
besar umat Islam di Indonesia. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris As
Syafi'i yang lahir pada tahun 767 M di Gaza Palestina. Bunyi nadhom sebagai
berikut :
أخي لن تنال العلم إلا بستة ### سأنبيك عن تفصيلها ببيان
ذكاء وحرص واصطبار
وبلغة ### وصحبة أستاذ وطول زمان
Imam as-Syafi’I menjelaskan dengan baitnya di atas
yang berarti,
“Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh
kecuali dengan enam perkara. Aku akan menyebutkan perinciannya: (yaitu)
kecerdasan, ambisi, sabar, modal, bimbingan guru, dan waktu yang lama.”
1. ذكاء
(CERDAS)
Manusia
diberi akal oleh Allah SWT untuk berfikir. Bahkan didalam Al Qur’an banyak kita
menjumpai ayat-ayat yang berhubungan dengan akal namun dalam kata kerja atau
verb aktif seperti “afalaa ta’qilun”. Ini menandakan bahwa manusia dituntut
agar selali berfikir karena berfikir butuh kecerdasan. Berfikir dan cerdas
adalah dua kata yang harus selaras dalam pola dan prilaku. Berfikir membutuhkan
kecerdasan, kecerdasan membutuhkan fikiran. Untuk itu para penuntut Ilmu oleh
Imam Syafi’I dituntut untuk cerdas, cerdas dalam mencari dan memilih guru,
cerdas dalam menyimak, mendengar, memilah dan memilih pengetahuan yang lebih
utama.
2. حرص
(AMBISI)
Berambisi
dalam mencari ilmu adalah suatu yang tidak boleh ketinggalan karena mencari
ilmu itu bukanlah hal mudah, banyak rintangan yang akan dihadapi seperti malas.
“Seorang pelaut tidak akan lahir dari ombak yang tenang,” pun seorang penuntut
ilmu akan dihadang berbadai-badai masalah dan kita harus melaluinya dengan
semangat dan terus bangkit saat terjatuh. Tanpa itu semua mencari ilmu hanya
sebuah perkataan tanpa adanya pelaksanaan apalagi berharap sebuah hasil.
3. اصطبار
(SABAR)
Benar
apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kesabaran
adalah setengah dari iman. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani tidak akan menjadi ulama’
yang mu’tabar jika Beliau tidak sabar. Imam Nawawi Al Bantani yang sabar
meladeni, berkhidmah kepada Guru Beliau yaitu Syekh Zaid Al Makki sehingga
menjadi ulama’ yang sangat berpengaruh di Arab Saudi. Kesabaran itu akan
menghasilkan buah dan buah itu adalah ilmu yang tidak hanya bisa diraih namun
bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan negara.
4. بلغة
(MODAL)
Modal
dalam hal ini bukan hanya sebuah uang, namun modal dalam hal ini adalah sesuai
dengan makna asli dari بلغ (sampai). Jadi dalam
mencari ilmu kita harus mempunyai sesuatu yang bisa mengantarkan kita menujunya
sebagai contoh lainnya adalah buku, alat tulis, dll. Semua hal yang mendukung
proses kita mencari ilmu itulah yang harus kita punya.
5. صحبة أستاذ (DITEMANI GURU)
Bagaimanapun
pembelajaran tatap muka, berhadapan langsung sangat berbeda guna dan manfaatnya
daripada belajar sendiri. Seorang guru bisa langusng menegur jika ada kesalahan
sehingga kesalahan itu tidak terus menerus ditularkan kepada murid. Ada ikatan
batin yang kuat ketika seorang murid berhadapan langsung dengan guru terutama
jika guru itu mempunyai sanad yang jelas sampai kepada Rasulullah dan Malaikat
Jibril sebagai penyampai.
6. طول
زمان (WAKTU YANG LAMA)
Mencari
ilmu adalah suatu proses jadi kita tidak bisa dilakukan dengan waktu yang
singkat. Mungkin beberapa orang bisa melakukannya dengan waktu yang relatif
singkat, namun apakah jiwa kita telah siap dalam keilmuan tersebut. Lamanya
kita dalam menuntut ilmu bukan diperhitungkan dari segi waktu namun dari segi
kesiapan jiwa kita dalam menerima ilmu. Banyak orang pintar yang kurang bijak
dalam keilmuannya. Semoga bermanfaat, Aamiin








Tidak ada komentar:
Posting Komentar