SEJARAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW


        Tidak hanya sekarang, dulu sudah pernah ada ujaran kebencian, hoax yang menimpa Baginda Nabi Muhammad SAW. Ujaran kebencian itu diujarkan oleh Ka’ab bin Zuhair, seorang seniman puisi/syair dari Arab.

        Ka’ab hidup dilingkungan orang-orang kafir. Dia hanya mendengar dan menerima berita yang menyudutkan Baginda Nabi. Dengan pengaruh ketokohan dalam bidang puisi dan syair, Ka’ab bin Zuhair menggubah syair-syair puisinya untuk menghina dan membully Islam juga Rasulullah.    Banyak orang yang terpengaruh dengan puisi-puisi Ka’ab karena puisi bagi orang Arab adalah pedang kedua, bahkan lebih tajam daripada pedang karena dengan puisi dan syair mengorbarkan perang besar.

        Tahun 628 M. Islam mulai mendapatkan pengaruh besar di kota kelahiran nabi; Mekah. Kota Mekah berhasil dikuasai. Peristiwa besar itu diabadikan dalam ingatan semua orang. Peristiwa Fathul Makkah. Berbondong-bondong orang masuk islam, berbondong-bondong dengan sukarela. Cahaya islam semakin kentara, patung-patung berhala dihancurkan, dan orang islam kini bisa bersembahyang di masjidil haram dengan bebas.

        Kabar kemenangan Rasulullah SAW sampai kemana-mana. Kakak Ka’ab bin Zuahair, Bujair bin Zuhair RA yang pada waktu itu telah memeluk islam mengabari adiknya. Ia melayangkan sepucuk surat.

Rasulullah SAW telah mengeksekusi beberapa orang yang dulu mencelanya dan menyakitinya. Dan para penyair Quraisy yang tersisa adalah Ibn Ziba’râ dan Hubairah bin  Abî Wahb. Mereka telah melarikan diri. Kalau dalam dirimu memang masih ada hajat (untuk hidup), maka pergilah temui Rasulullah SAW. Karena Rasul tak pernah membunuh seorangpun yang bertaubat mendatanginya. Kalau kau tak mau melakukan itu, maka carilah keselamatanmu dengan melarikan diri.

 

        Ka’ab bin Zuhair segera membalas surat itu. Ia membalasnya dengan untaian syair. Syair yang justru mengecam dan menyudutkan Nabi Muhammad SAW. Syair ini sampai juga kepada Nabi. Bujair pun membalas syair Ka’ab. Lalu hati Ka’ab mulai ragu. Tak ada lagi niatan baginya untuk melarikan diri, karena lapangnya dunia sudah terasa sangat sempit. Ia tak merasa memiliki tempat sembunyi yang aman. Ia lalu memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Sebuah keputusan yang penting dan berani dalam hidupnya. Ia telah pasrah, apapun yang akan terjadi.

        Ia menempuh perjalanan menuju Madinah, kota berperadaban yang baru saja menggeliat. Tiba disana, ia beristirahat ditempat kenalannya yang berasal dari Juhainah. Orang itu menyediakan tempat istirahat sesaat. Tidak lama, karena pagi-pagi buta Ka’ab langsung berangkat menunaikan salat Subuh. Tak sabar ia jumpa Rasulillah SAW. Tak sabar pula ia menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Tentu saja Ka’ab meminta temannya untuk menunjukkan dimana Rasulullah SAW. Karena selama ini ia belum pernah berjumpa beliau, ia hanya tahu dan mendengar dari orang-orang. Ketika salat Subuh telah usai, Ka’ab minta ditunjukkan dimana Rasul duduk. “Itu dia Rasulillah, berdirilah dan mintalah jaminan keamanan padanya.” Kata kawan Ka’ab.

Maka bergegaslah Ka’ab bin Zuhair RA menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia mendekat dan duduk didekat beliau. Tangan Ka’ab diletakkan di tangan Nabi Muhammad SAW. Pada waktu itu, Nabi belum mengenal siapa orang didepannya. Orang asing yang tiba-tiba duduk didepan Nabi itu.

        Tanpa basa-basi, Ka’ab langsung mengutarakan maksudnya. Ia tidak langsung mengatakan dan mengakui bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair RA. Tentu saja atas perlakuan dan sikapnya selama ini terhadap nabi. Orang-orang disekitar Nabi juga tak ada yang berkata apapun. Mereka hanya tahu syair-syair Ka’ab, namun belum pernah melihat rupa penyairnya.

Wahai Rasulallah, Ka’ab bin Zuhair sudah datang dan minta jaminan keamanan kepadamu. Ia bertaubat dan masuk agama islam. Maka adakah engkau mau menerimanya jika aku datang padamu membawa serta dia?” Kata Ka’ab dengan nada politisnya.

 

        Nabi Muhammad SAW bukanlah pribadi yang pendendam. Beliau juga bukan pribadi yang suka mengungkit-ungkit kesalahan seseorang. Beliau selalu membuka lapang pintu maaf, dan menerima siapapun yang sadar dan bertaubat. “Tentu saja”, kata Nabi.

        Mendengar jawaban tersebut seperti mendapat angin segar. Tanpa ragu lagi Ka’ab mengaku, “Aku wahai Rasul! Ka’ab bin Zuhair”.

Spontan saja, salah seorang sahabat Anshor melompat hendak menikam Ka’ab. “Biarkanlah aku dan musuh Allah ini, aku penggal lehernya!

Namun Nabi Muhammad SAW menjawabnya dengan bijak. Beliau tidaklah membiarkan seorangpun melukai orang yang sudah masuk islam. “Biarkan dia, karena dia telah datang bertaubat. Tak melakukan lagi apa yang dilakukannya dulu.

        Kemudian ia menyenandungkan kasidah yang begitu popular dan melegenda, Banât Su’âd. Bânat Su’âd, itu kalimat pertama kasidah ini. Dibawah ini syairnya :

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي اليَوْمَ مَتْبُوْلُ ### مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُوْلَ

Suad telah pergi, pada hari ini hatiku sedih
Gelisah sesudahnya, ia masih teringat dan belum lepas

يَسْعَى الغُوَاةُ جَنَابَيْهَا وَقَوْلُهُمْ ### إِنَّكَ يَا ابْنَ أَبِي سُلْمَى لَمَقْتُوْلُ

Para penyebar isu di sekitarnya beraksi dan berkata
Wahai Ibnu Abu Sulma kamu pasti mati

 

وَقَالَ كُلُّ صَدِيْقٍ كُنْتُ آمُلُهُ ### لا أُلْهِيَنَّكَ إني عَنْكَ مَشْغُوْلُ

Sementara semua teman yg aku harapkan berkata
Aku tidak meninggalkanmu, aku sibuk darimu

 

فَقُلْتُ خَلُّوا طَرِيْقِي لاَ أَبَالَكُمْ ### فَكُلُّ مَا قَدَّرَ الرَّحْمَنُ مَفْعُوْلُ

Aku berkata biarkan jalanku tidak ada bapak bagimu
Segala apa yang ditakdirkan Ar Rahman pasti terjadi

 

كُلُّ ابن أُنْثَى وإن طَالَتْ سَلاَمَتُه ### يَوْمًا عَلَى آلةٍ حَدْبَاءَ مَحْمُوْلُ

Setiap anak seorang wanita meskipun berumur panjang
Suatu hari dia akan dipikul di atas keranda

 

نُبِّئْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِي ### وَالعَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلُ

Aku diberitahu bahwa Rasulullah mengancamku
Dan maaf di sisi Rasulullah benar-benar diharapkan

 

مَهْلاً هَدَاكَ الذِي أَعْطَاكَ نَافِلَةَ ### القُرْآنِ فِيْهَا مَوَاعِيْظُ وَتَفْصِيْلُ

Santai, engkau telah dibimbing oleh dzat yang memberimu
Mukjizat Alquran yang berisi nasihat dan rincian

 

لاَ تَأْخُذّنِّي بِأَقْوَالِ الوُشَاةِ وَلَمْ ### أُذْنِبْ وَلَوْ كَثُرَتْ فِي الأَقَاوِيْلُ

Jangan menghukumku dengan dasar ucapan penyebar isu
Aku tidak bersalah walaupun orang-orang berkata tentangku

 

لَظَلَّ تُرْعَدُ مِنْ خَوْفٍ بَوَادِرُهُ ### إِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ تَنْوِيْلُ

Tengkuknya senantiasa bergetar karena takut
Jika tidak ada jaminan rasa aman dari Rasulullah

 

إِنَّ الرَّسُوْلَ لَنُوْرٌ يُسْتَضَاءُبِهِ ### مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوفِ اللهِ مَسْلُوْلُ

Sesungguhnya Rasul adalah cahaya yang menerangi
Kuat pemberani dari pedang India yang terhunus

 

فِي عُصْبَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَ قَائِلُهُمْ ### بِبَطْنِ مَكَّةَ لما أَسْلَمُوا زُولُوا

Bersama sekelompok orang Quraisy, salah satu dari mereka berkata
Di lembah Makkah ketika mereka masuk Islam, hijrahlah

 

زَالُوا فَمَازَالَ أَنْكَاسٌ وَلاَ كُشُفٌ ### عَنْدَ الّلقَاءِ وَلاَمِيْلٌ مُعَازِيلُ

Mereka berhijrah, mereka dianggap lemah, mereka tidak berperisai
Pada saat bertemu musuh tanpa pedang dan senjata

 

لَيْسُوا مَفَارِيْحَ إِنْ نَالَتْ رِمَاحُهُمْ ### قَوْمًا وَلَيْسُوا مَجَازِيْعًا إِذَا نِيْلُوا

Mereka tidak sombong jika tombak mereka membunuh
Suatu kaum, mereka tidak sedih jika mereka kalah

 

لاَ يَقَع الطَّعْنُ إِلاَّ فِي نُحُوْرِهِمُ ### وَمَا لَهُمْ عَنْ حِيَاضِ المَوْتِ تَهْلِيْلُ

Tikaman tidak terjadi kecuali pada leher mereka
Mereka tidak pernah mundur dari telaga kematian


          Mendengar pujian itu Nabi SAW tidak melarang, bahkan membenarkan malah Rasulullah memberi hadiah selimut yang sedang dipakai.. Selimutnya bergaris-garis. Selimut garis-garis itu bahasa Arabnya adalah Burdah,

 

        Maulid Nabi pertama diadakan oleh Al-Mu’iz Li Dinillah, khalifah Fathimiyah di Mesir pada tahun 361 H yang bermadzhab Syiah. Sedang madzhab Sunni yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi SAW adalah Syamsud Daulah dari Nidhomul Muluk di Irak.

        Dari cerita Ka’ab bin Zuhair yang membacakan pujian-pujian kepada Baginda Nabi dan Nabi diam merupakan sunnah taqririyyah yaitu perkataan, perbuatan yang tidak dilakukan Nabi SAW, tetapi dibenarkan Rasulullah SAW. Memuji atau mengagungkan Rasulullah SAW termasuk sunnah taqririyah karena tidak pernah dilarang oleh Rasulullah SAW.

        Kiai Said menyebut, sampai saat ini burdah Nabi Muhammad SAW masih ada dan diabadikan di Museum Toqafi Istanbul Turki. Itulah mengapa setiap ada qasidah atau syair yang isinya memuji Nabi Muhammad SAW disebut qasidah burdah. Dan yang terkenal di Indonesia adalah burdah gubahan Muhammad Al-Busyiri murid dari pada Syaikh Abdul Abbas Al-Mursi, murid Abu Hasan Asy-Syadzili, murid Abdus Salam bin Masyis, murid Abu Madyan Al-Ghauts.

Allahumma sholli 'Alaa Sayyidinaa Muhammad.. Wa'Alaa Aali Sayyidinaa Muhammad...

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.